Pokok Iman

Pokok Iman

Iman adalah bahan yang menarik. Alkitab menyebut iman sebagai karunia Roh Kudus dan juga buah Roh Kudus. Kita semua ingin memercayai Allah untuk segala sesuatu dengan sikap seperti anak kecil, tanpa bergumul, atau menggertakkan gigi, berusaha melakukan sesuatu. Untuk dapat melakukan hal itu, kita memerlukan impartasi iman dari Roh Kudus – iman itu datang sebagai karunia dan menyatakan dirinya sebagai buah di dalam hidup kita sementara kita menerapkan karunia tersebut.

Memercayai Allah bukanlah suatu dalih untuk duduk-duduk dan berkata, ’Aku tinggal menyerahkan segala sesuatu kepada Allah. Aku tidak perlu lagi melakukan apa-apa.” Tidak, memercayai Allah adalah proses mendengarkan Allah berbicara ke dalam hati kita, mendorong kita untuk berdoa tentang kebutuhan-kebutuhan yang spesifik dan kemudian bekerjasama dengan Dia untuk melihat hal-hal itu terjadi.

Allah ingin bekerja sama dengan kita

Beberapa hal dalam persoalan ini membuat saya gentar. Mengapa Allah ingin bekerja sama dengan Anda dan saya? Mengapa Ia ingin bekerja sama dengan umat manusia untuk memenuhi kehendak-Nya? Sebagian alasannya, menurut saya, Ia menginginkan orang-orang yang dipenuhi Roh Kudus menjadi pelaksana rencana tindakan-Nya untuk menyelamatkan orang-orang yang masih jauh dari Dia. Allah sedang mencari orang-orang yang mau mengatakan ”Ya” kepada-Nya dan mau bekerjasama dengan-Nya untuk mengubah keadaan umat manusia.

Bila dibandingkan dengan cara pemikiran manusiawi kita yang terbatas, pemikiran Allah itu sangat besar ! Proyek yang hendak dijalankannya tampak mustahil bagi kita. Pada kenyataannya, hal itu biasanya memang mustahil – bagi kita. Hal ini selalu terlalu besar untuk kita tangani seorang diri dan memang itu yang Allah inginkan. Ini bagian yang tak terpisahkan dari hidup oleh iman. Sungguh ajaib cara kerja iman itu. Anda mendengar Allah memanggil Anda untuk melakukan sesuatu yang benar-benar mustahil dan Anda berpikir, ”Bagaimana mungkin ini bisa terjadi ?” Namun, langkah demi langkah Ia menuntun Anda melalui rencana yang telah Dia tetapkan sebelumnya dan apa yang semula mustahil itu pun terjadilah.

Renungkan dalih-dalih yang mungkin Anda lontarkan kepada Tuhan di dalam hati Anda. Apakah Dia memanggil Anda untuk melakukan sesuatu bagi Dia atau untuk memercayai mukjizat dalam hidup Anda ? Bagaimana jawaban Anda kepada-Nya? ”Aku terlalu tua...Aku terlalu muda....Aku tidak punya sumber daya yang diperlukan....Aku tidak punya pengaruh...”

Apapun yang terjadi dalam kehidupan ini, Anda dapat berkata, ’Baik Tuhan, ini ada tantangan lain. Aku ingin tahu, apa yang akan Kaulakukan dengan tantangan ini?” Musa harus melewati proses itu dan demikian pula Anda.

Iman yang otentik = ketaatan yang lugas.

Pada bagian awal Kisah Para Rasul 2 kita melihat murid-murid Yesus berkumpul, bersama menunggu janji Bapa yang disampaikan Yesus kepada mereka dalam pasal sebelumnya. Kita perlu memikirkan apa kiranya yang mereka alami. Yesus ”melarang mereka meninggalkan Yerusalem dan menyuruh mereka tingga di situ menantikan janji Bapa” dan memberitahukan bahwa ”tidak lama lagi kamu akan dibatis dengan Roh Kudus” (Kis. 1 : 4-5).

Pesan Allah kepada kita juga sama. Sewaktu Ia memanggil dan menetapkan kita untuk melakukan sesuatu bagi Dia, kita tidak boleh terburu-buru dan berusaha menyelesaikannya di dalam daging- menurut hikmat, usaha keras, atau sumber daya kita sendiri. Allah mau bekerja sama dengan kita dalam usaha keras tersebut dan akan memenuhi kita dengan Roh Kudus, agar kita menerima kuasa untuk menjalankan tugas tersebut.

Pada hari Pentakosta, para murid sedang berada di ruang atas, menunggu dan berdoa semata-mata karena itulah yang Tuhan perintahkan kepada mereka. Mereka menanggapi perintah-Nya untuk menunggu sampai mereka diperlengkapi dengan kuasa. Mereka tidak berusaha sendiri, agar hal itu terjadi; mereka tidak bergumul; mereka tidak berusaha mengklaim hak untuk diberkati oleh Allah. Iman yang otentik = ketaatan yang lugas. Iman berarti menanggapi permintaan Allah dengan ketaatan. Jika ia memerintahkan Anda untuk pergi, Anda pergilah dan Ia akan memperlengkapi Anda dengan kuasa. Jika Ia memerintahkan Anda untuk menunggu dan berdoa, Anda menunbbu dan berdoalah dan Ia akan memperlengkapi Anda dengan kuasa !

Pada akhirnya, para murid dapat bersaksi dalam Kisah Para Rasul 2, ”Roh Kudus turun ke atas kita.” kesaksian mereka mendatangkan kemuliaan bagi Allah karena hal itu bukan mereka yang melakukannya. Mereka tidak berdoa, agar Roh Kudus turun; hal itu bukan terjadi karena mereka ”cukup kudus” atau ”cukup baik”; hal itu bukan terjadi karena mereka mengusahakannya. Mereka menanggapi dalam ketaatan yang lugas dan setelah mereka dipenuhi dengan Roh Kudus mereka menjadi sangat, sangat efektif dalam memenuhi Amanat Agung dan memperluas Kerajaan Allah.

Langkah-langkah Iman yang Sederhana

Menurut saya, kita memiliki kebebasan untuk menyambut pemeliharaan Allah. Saya tidak mempercayai sistem keagamaan yang dilandasi oleh perbuatan, namun saya memercayai sistem di mana kita menanggapi inisiatif Tuhan. Allah ingin memenuhi Anda dengan Roh Kudus; Ia ingin melengkapi Anda dengan karunia Roh dan dengan iman, mukjizat dan tanda-tanda ajaib. Yang diperlukan dari Anda hanyalah, ’Ya Tuhan, aku mau menerima hal-hal itu dari Engkau.”

Sewaktu Tuhan meminta kita melakukan sesuatu bagi Dia, walaupun seluruh proyek itu mungkin begitu besar, mungkin mustahil di mata kita, langkah pertama yang Dia mau kita ambil adalah langkah yang sederhana. ”Tunggulah dan berdoalah...” ”Katakan kepada Firaun, ’biarkan umat-Ku pergi.” Allah memberi kita petunjuk yang sederhana.

Masalah tua yang membelit umat manusia adalah kita terlalu sering menanggapinya dengan berkata, ”Tidak mungkin keadaannya sesederhana itu, Tuhan.” Musa menolak rencana Tuhan yang sama dengan berkata, ”Tidaklah Engkau menyadari bahwa Firaun adalah pemimpin bangsa yang paling kuat di muka bumi? Aku tidak bisa begitu saja mendatangi dia dan mengatakan hal itu. Keadaannya tidak sesederhana itu.” Disitulah Allah memerintahkan Anda melakukan sesuatu, bulatkan hati Anda untuk melakukannya. Itu pasti sesuatu yang sederhana. Setelah Anda mengambil langkah tersebut, akan ada langkah sederhana berikutnya. Anda belajar dengan langkah demi langkah. Begitulah cara belajar berjalan dalam iman.

Pembenaran oleh Iman di dalam Kristus

Roma 3 : 21-24 mengatakan :

”Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat kebenaran Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi, yaitu kebenaran Allah karena iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristen Yesus.”

Paulus mengajarkan bahwa kita masing-masing berdiri setara dihadapan Allah. Tidak ada perbedaan antara orang Yahudi yang menaati hukum Taurat dan orang bukan Yahudi dihadapan Allah. Yang penting adalah apakah orang itu memercayai Kristus sebagai Juruselamatnya atau tidak. Melalui iman (percaya kepada Yesus), perbedaan itu tidak ada lagi sama sekali. Setiap orang dan siapa saja dapat mendekati Tuhan.

Allah tidak menyapu dosa-dosa Anda ke bawah karpet dan berkata dosa-dosa Anda ke bawah karpet dan berkata, ”O ya, mari kita lupakan saja, tidak ada masalah.” Dosa adalah persoalan yang sangat, sangat serius. Dosa adalah sewaktu kita melakukan kepentingan kita, biasanya dengan mengorbankan orang lain dan kita tidak memedulikan kerena karena kita ingin melakukan kepentingan kita. Allah menyebutkan dosa. Allah mengetahui segala sesuatu tentang dosa umat manusia dan Ia tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Maka, Ia pun menawarkan jalan penyelesaian. Anak-Nya sendiri, Yesus akan menebus harga dosa kita dengan mati dikayu salib. Karena itu, Yesus adalah orang yang akan membenarkan kita di hadapan Allah kalau kita beriman kepada-Nya. Keselamatan melalui iman ini ditawarkan kepada umat manusia sebagai karunia Allah yang cuma-cuma.

Roma 5 : 1-2 mengatakan,

Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus. Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri...”

Kita berdamai dengan Allah melalui iman kepada Yesus. Itulah awalnya dan begitu pula kelanjutannya dalam kehidupan Kristen kita.

Tulis Komentar

Silahkan Berkomentar! No SPAM, No LINK, No URL pada isi komentar atau di Delete. Pilih Name/Url, untuk memasukkan link. Artikel bisa di copy-paste, Pastikan menulis sumber dan penulisnya. Terimakasih.