Cerpen Feri M. Syukur
SEMUT DI GEDUNG TUA
Laki-laki setengah tua. Lampau muda. Ketika uban sudah meraja. Kaca di mata menebal. Tungkai tak lagi tegak, merunduk. Mengerut. Mengecil. Kehilangan udara dalam dada. Timbul wibawa karena ketuaan, kemudian sedikit mengikis lagi wibawa itu. Jalan berderma setangkai kayu. Hampir layu. Tubuh itu, berdiri di ambang jendela. Menghadap gedung tua.
Kakinya bergoyang. Tak tentu kemana arahnya. Kursi di gesernya dengan tongkat. Namun, matanya tetap saja memandang gedung tua itu. Tak lepasnya sekejap mata. Orang tua yang sibuk dengan memandang gedung tua, seperti memandang lukisan abstrak para perupa. Atau semacam memandang bayi yang selamat dari sebuah kecelakaan maut.
Dari gedung putih, yang berlantai empat, di tambah taman kecil di ujung gedung, dan pendaratan helykopter, ia masih bisa berharap, nanti, esok hari atau masa depan sebelum ia menutup mata, orang-orang dalam gedung sebrang gedung putih sudah tak ada. Atau sekedar menghilang saja sejenak, sebelum ia menutup mata. Mati penasaran sebelum kandang semut itu menghilang.
Karyo namanya. Karyo Atmowiloto Cokro Bin Bimo. Keturunan jawa sunda belanda. Walau tanpa van di namanya, orang masih bisa melihat mancung hidungnya, atau mata biru yang menyala di malam hari. Seperti mata kucing yang mengintai mangsanya.
Tak banyak yang ia bisa lakukan. Dalam keadaan yang sempit ini, ia tak bisa berjalan keluar. Melintasi daun pintu, atau hanya menempelkan telinganya di dinding pintu, ingin mendengar luaran kamarnya. Atau sekedar untuk buang angin. Beli kopi. Beli mie. Beli kue. Garam. Baju. Celana dalam. Kutang istri. Atau semacam gincu untuk istrinya yang ke dua. Tak bisa lagi ia lakukan. Tak bisa. Sekalipun tak bisa apa-apa.
Karto panggilannya. Karto Atmowiloto Cokro Bin Bimo. Nama ubahan dari Sugeng Suharta. Anak buah Karyo. Lelaki kuasa yang tak bisa keluar rumah. Bahkan kamarpun ia tak bisa. Ketika tak bisanya itu, Karto kini bisa leluasa keluar masuk istana putih. Sebuah gedung bercetkan putih yang hadir dengan pagar mobil-mobil kaca. Berwarna-warni. Motor sekelas apapun tak ada. Di atas gedung itu yang di atasnya ad ataman kecil dan tanah bertuliskan H, ia bisa memandang sebuah gedung tua. Setua perkataan orang-orang tentang dirinya. Yang kokoh di terjang badai, hama dan juga semacam bom atom di Hirosima dan Nagasaki.
Dunungannya tak punya pekerjaan lain. Selain memandang gedung tua itu. Dia pernah berkata tentang kelakuannya itu, tapi Karyo tak menjawab. Ia tak bergerak sedikitpun mengenai itu. Kanapa ia selalu berdiri di sana? adakah yang aneh atau indah di sana? adakah kenangan yang tersimpan di sana? harapan mungkin? Semacam unek-unek? Atau segenggam kebencian? Karyo tak menjawab. Sampai akhirnya Karto tak lagi mau bertanya tentang gedung tua itu. Tentang kelakuan tuannya yang aneh.
I
Matahari di bibir hari. anak-anak bayi di paksa bermandi cahaya mentari. Memandang langit dan melahap vitamin yang tak bisa membuatnya kenyang. Mencuri-mencuri kekuatan. Dari tangan matahari yang selalu merayapi bumi. Dari liang semut, hingga liang kemanusiaan yang semakin menganga setiap harinya.
Seperti biasa, Karyo dan Karto datang bersamaan. Seperti amplop dan perangko. Guntur dan halilinar. Karyo, sang dunungan berjas, kemeja putih, celana katun. Bejalan santai dari dalam mobiolnya menuju pintu gedung putih. Karto, yang berjalan di belakang tak jauh berbeda, hanya saja karto berkaca mata hitam. Sehitam kulitnya yang legam.
“Kamu tahu gedung di sebrang sana?”
“Pentagon tuan?”
“Sudah lama saya mendengar bising-bising dari sana. seperti gergaji kayu yang siap membabat hutan.”
“Muangkin hanya perasaan tuan saja.”
“Perasaan pemimpin selalu benar. Benar pada hal-hal yang menyangkut kekuasaan!”
“Maksudnya?”
“Sering saya melihat orang-orang hitam itu membawa roti buaya ke balik bilik mereka. Saya takut kalau mereka akan berguru pada buaya-buaya, yang akhirnya tumbuhlah gigi-gigi tajam dari balik bibir mereka.”
“Kalau begitu, kita harus mengadakan rapat dadakan tuan?!”
“Kumpulkan sekarang juga orang-orang kita Karto. Kita akan mengadakan rapat dadakan yang tertutup!”
“Bagaimana dengan para preman? Apa harus juga kita undang?”
“Kamu jangan lupa, kalau mereka itu adalah anjing-anjing kita yang harus kita beri makan. Agar mereka mau menuruti perintah kita. Menjaga kita dan mengabdi pada kita.”
Sambil menutupkan pintu kerjanya, Karyo menutup pembicaraan hari itu.
II
Dari balik pentagon. Bersebrangan dengan gedung rektorat. Yang di antara mereka menghadang taman parterre. Beberapa pohoh beringin tua hidup diantara lantai-lantai keramik. Tembok pertahanan masing-masing dari serangan musuh. Bagi rektorat dari pentagon. Bagi pentagon dari rektorat.
Segerombolan semut berjalan masing-masing. Tetap saling sapa dan saling mewasiatkan. Seolah mereka menyimpan sebuah rahasia besat. Yang sangat besar tanggung jawabnya. Semut satu dan yang lainnya tak bisa berbagi senyum. Mereka berbicara dari tangan satu ke tangan yang lainnya. Hanya saling raba. Dari jala tangan yang berkeriangat, satu sama lain bisa menilai satu sama lain. Apakah dia kawan ataukah lawan.
Semua saling curiga. Junior dengan seniornya. Mahasiswa dengan dosennya. Dosen dengan jurusannya. Jurusan dengan dekannya. Dekan dengan rektornya. Dan rector dengan mahasiswanya.
Beberapa orang yang tertangkap sebagai status prasangka mata-mata tak bisa menghindar. Dari tajamnya pedang yang di asah oleh kebencian. Ketidak percayaan yang menggelayuti. Apalagi tersangka, yang tervonis dengan amarah, tak bisa selamat. Ruh yang abstrak sekalipun tetap harus merasakan sebuah kekejaman. Saling curiga.
Ketika orang-orang pentagon sedang asik membagi roti di meja permasalahan, mereka tak bisa menyembunyikan garis-garis muka yang menghitam. Karena benturan moral dengan kebijakan. Antara tanda tangan dan toa yang berteriak. Atau palu meja hijau dengan urat kerongkorangan yang menegang.
Daftar hadir di isi. Nama-nama tercantum sebagai pengikat. Agar kata dan laku mereka bisa di ikat. Seperti tali anjing yang melingkar di leher. Agar tak menggigit.
Satu, dua, tiga dan seterusnya kalimat berurai. Berjatuhan. Seperti hujan. Seperti daun di masa kemarau. Seperti buah mahoni yang berjatuhan dari pohonnya. Berputar. Menari. Memalingkan pahitnya biji dengan tariannya. Jatuh kejalan. Ke taman. Di atap rumah. Di kendaraan. Di tangan anak kecil. Di tangan orang dewasa. Menyentuh buku. Menyentu toga. Terinjak sepatu. Tergilas ban. Di makan burung. Masuk kolam. Satu sama lain tak saling bertemu. Sendiri-sendirinya berjalan.
Dari jauh. Di sebrang pentagon. Sepasang mata nyalang memperhatikan mereka. Gerak bibir berbicara di tafsirkan sebagai sebuah ancaman. Gerak tangan yang memutarkan pena berrubah menjadi panah yang siap melesat. Kertas-kertas seperti sebuah senjata yang akan menghukumi dirinya dengan segala tuduhan.
Karyo berbicara dengan seseorang di selulernya. Dengan sekali-sekali menelan ludah. Karyo berdiri dari kursinya, melewati meja dinas dan jas yang tergantung. Membuka jendela dan melemparkan pandangannya ke sebrang.
“Siapkan saja semuanya. Saya akan urus semut-semut kecil itu. Tak usah takut. Saya akan jamin kalau mahasiswa kami tidak akan turun ke jalan. Ya, semuanya tanggung jawab saya sebagai rektorat di kampus ini. Kalau mereka memaksa, maka akan saya paksa juga para dosen untuk menyembelih nilai mereka. Tenang saja pak. Bapak tinggal urus saja undang-undang pendidikan yang belum selesai itu. Bukankah undang-undang itu juga sangat penting untuk kepntingan kita? Orang-orang yang berpengaruh dalam dunia didik mendidik. Ya, saya mengerti. Bapak minta yang bagai mana? Ya, saya akan kirimkan dia nanti sore. Kebetulan hari ini dia ada kelas. Hingga tengah hari.”
III
Hari itu, di mana hari-hari yang berputar seperti meinggu kemarin. Tak ubahnya seperti mobil yang berjalan di jalan. Dari jauh menjadi dekat, dari dekat kemudia menjadi jauh, meninggalkan asap tebal di muka jalan. Hanya beberapa orang saja yang turun ke jalan. Semua mati. Di tembak para polisi. Teman-teman yang lain, yang selamat dari penculikan para aparat, menghilang. Tak di temukan jejaknya.
Hari sudah siang. Para mahasiswa hanya tersisa empat orang. Yang lain sudah pulang, teman-teman sembilan orang lainnya. Toa tak bisa lagi diandalkan. Hilang suara. Tiba-tiba saja terkena panas dalam. Serak. Kalau adapun tinggal jerit kesakitan. Hanya itu tersisa. Dari sebuah perjuangan yang saling cemburu. Curiga. Dan saliang terkam. Semut-semut malang yang tak bertuan. Kini hilang, tak punya kandang. Musnah menjadi arang.
Bandung, 2008
Feri M. Syukur, lahir di Bandung 25 Februari 1989. kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Kumpulan cerpennya tertuang dalam buku antologi bersama Peradaban Cinta, 2006. sekarang sedang merampungkan buku antologi puisi, drama, dan prosa Karnaval Kupu-Kupu. Bekerja sama dengan Rumah Akasia dan FLaSH BDG.
KLIK JUGAsigodang.blogspot.com
KLIK jajantambahan.blogspot.com
KLIK mediarayasimalungun.blogspot.com
LIHAT JUGA Karya Ferdinan De J Saragih di Media
Pergunakan blog, friendster, facebook anda untuk menghasilkan uang. klik dibawah ini..???
ATAU
Selengkapnya...
Puisi Faisal Syahreza
Mata waktu
Sering sekali
Kita mengayuhnya
Dengan perasaan
Yang tergesa-gesa
Seakan-akan
Jauh sudah kita
Ketinggalan
Padahal
Tuhan
Betapa
Sabarnya
Menuntun jalan
Tapi kita selalu kehabisan
Waktu
Mengejar keabadian
Karena kita
Kepalang tergoda
Di setiap
Simpangan jalan
Melihat
Airmata
Sebagai kado
Istimewa
Melihat
Kepedihan
Sebagai
Perempuan cantik
menggairahkan
Dan kita lupa
Menengok ke luar
jendela
Jauh sana
Kereta, sudah
Berangkat
Kita masih
Terduduk
Di stasiun tempat bertolak
Keretamu, tuhan.
Yang menarik gerbong-gerbong
Berisi segala kembang surga.
2008
Ziarah tanah
bagaimana
bila aku
hanya selembar daun
di makammu
apakah hanya sunyi
yang engkau
kenali sebagai
wajahku atau
apakah hanya tumpukan
kecemasan yang kau
rasakan telah
berlelehan
di dahimu tapi meski
selembar daun
aku akan tetap
tumbuh
sebagai
wujud yang tak
bisa dihapus
oleh waktu
dan cahaya, waktu itu
barangkali
hanya benda yang lupa
sama-sama
kita sapa.
2008
Faisal syahreza, Penyair Cianjur ini sedang merampungkan pendidikannya di UPI, Bahasa dan Sastra Indonesia. Puisinya tergabung di antologi sastra senja, SELALU ADA RINDU (2006, DKJ). Puisi dan cerpennya dimuat surat kabar daerah maupun nasional (Jurnal Nasional, Seputar Indonesia, Padang Ekspres, Lampung Post, Pikiran Rakyat, Suara Karya, Jurnal Sastra Lazuardi, Majalah Sastra Horison Dll) Kini bergiat di Arena Studi Apresiasi Sastra (ASAS UPI) dan Sanggar Sastra Remaja Indonesia, Horison.
Selengkapnya...
Penyair dan Kematian
Indahnya kematian
Dunia ini telah mengubah pandanganku
Sebagai manusia
Aku rindu pergi dari jagat raya ini
Pergi ke dunia berbeda
Perpisahan jiwa dan raga
Menyatunya raga dan tanah
Bermukim diantara Sorga atau Neraka
Suatu cita-cita lama
Jika ini terwujutkan
Tak lupa aku berpamitan kepada bumi
Setia Budhi, Juli 2008
Bugil
aku mendadak jadi penyair gila
melepas segala yang tertutup
menjadikannya telenjang
semuanya kubugili tanpa satu tersisa
membongkar kemunafikan pejabat negri
menendangnya ke ruang 2x4
terus kusuarakan hak-hak rakyat
dalam bait-bait kebenaran sejati
Setia Budhi, Agustus 2008
Karya: Ferdinan De J Saragih
KLIK jajantambahan.blogspot.com
KLIK mediarayasimalungun.blogspot.com
LIHAT JUGA Karya Ferdinan De J Saragih di Media
Pergunakan blog, friendster, facebook anda untuk menghasilkan uang. klik dibawah ini..???
ATAU
Selengkapnya...
Kisah Cinta Perantau Jalanan
Indahnya duniaku
Sering aku tidak bisa melihat indahnya dunia, seluruh pandanganku dipenuhi olehmu. wajah indah, senyuman dan sempurnanya ragamu, selalu terlihat disaat kedua kelopak mataku terbuka.
Kini ragamu adalah duniaku, senyumanmu, tawamu menjadi pemandangan indah buatku. disaat aku ingin berlibur, dikala hatiku sendu dan tawa tidak lagi bersamaku
Bandung, juni 2008
Perantau Jalanan
Ketika kuarungi hidup keluar dari kelahiran
Jauh dari orang tua bahkan sanak-saudara
Mencoba untuk hidup susah
DiNegri orang yang penuh cobaan
Yang mungkin menggerogoti
Disetiap titik pundasi kehidupan
Berbaur dengan orang-orang
Yang tak pernah dipandang
Yang sering jadi musuh dalam persaingan
Untuk mencari nasi disetiap pekerjaan
Tidur di jalanan
Bahkan di kolong-kolong jembatan
Berharap lusa ada perubahan
Atau bulan depan
Mungkin juga tahun depan
Hanya kesabaran yang dibutuhkan
Menuju keberhasilan yang akan datang
Bandung, September 2007
Karya: Ferdinan De J Saragih
KLIK jajantambahan.blogspot.com
KLIK mediarayasimalungun.blogspot.com
LIHAT JUGA Karya Ferdinan De J Saragih di Media
Pergunakan blog, friendster, facebook anda untuk menghasilkan uang. klik dibawah ini..???
ATAU
Selengkapnya...
Sosiolinguistik; Pengembangan Dan Pembinaan Bahasa
Pengembangan dan Pembinaan bahasa
Ada dua hal yang harus dilakukan dalam pengembangan dan pembinaan bahasa, antara lain kebijakan bahasa dan perencanaan bahasa. Ini bertujuan agar masalah pemilihan atau penentuan bahasa tertentu sebagai alat komunikasi di dalam negara itu tidak menimbulkan gejolak politik yang pada gilirannya akan dapat menggoyahkan kehidupan bangsa di negara tersebut.
Kebijakan bahasa
Apakah yang dimaksud kebijakan bahasa itu? Kalau kita mengikuti rumusan yang disepakati dalam seminar politik bahasa nasional yang diadakan di Jakarta tahun 1975 maka kebijakan bahasa itu dapat diartikan sebagai pertimbnagan konseptual dan politis yang dimaksudkan untuk dapat memberi perencanaan, pengarahan dan ketentuan-ketentuan yang dapat dipakai sebagai dasar bagi pengelolaan keseluruhan kebahasaan yang dihadapi oleh suatu bnagsa secara nasional.
Masalah-masalah kebahasaan yang di hadapi setiap bangsa adalah tidak sama, sebap tergantung terhadap situasi kebahasaan yang ada di dalam negara itu. Negara-negara yang sudah memiliki sejarah kebahasaan yang cukup, dan di dalam negara itu hanya ada satu bahasa saja (meskipun dengan sekian dialek dan ragamnya) cendrung tidak mempunyai masalah kebahasaan yang serius. Negara yang demikian, misalnya, Saudi Arabia, Jepang, Belanda dan Inggris. Tetapi negara-negara yang terbentuk, dan memiliki sekian bahasa banyak bahasa daerah akan memiliki persoalan kebahasaan yang cukup serius, dan mempunyai kemungkinan untuk timbulnya gejolak sosial dan polotik akibat persoalan bahasa itu. Indonesia sebagai negara yang relatif baru dengan bahasa daerah yang tidak kurang dari 400 buah, agak beruntung sebap masalah-masalah kebahasaan yang terjadi di negara lain, secara historis telah agak terselesaikan sejak agak lama.
Peristiwa pengangkatan bahasa Indonesia yang terjadi pada tanggal 28 oktober 1928 dalam satu ikrar yang disebut soempah pemoeda itu tidak pernah menimbulkan protes atau reaksi negatif dari suku-suku lain di Indonesia, meskipun jumlah penuturnya lebih banyak, berlipat ganda. Kemudian, penetapan bahasa Indonesia menjadi bahasa negara dalam undang-undang Dasar 1954 pun tidak menimbulkan masalah. Oleh karna itulah, para pengambil keputusan dalam menentukan kebijakan bahasa yang menetapkan fungsi-fungsi bahasa Indonesia, bahasa daerah, bahasa asing dapat melakukannya dengan mulus.
Tujuan kebijakan bahasa adalah dapat berlangsungnya komunikasi kenegaraan dan komunikasi intra bangsa dengan baik, tanpa menimbulkan gejolak sosial dan gejolak sosial yang dapat mengganggu stsbilitas bangsa. Oleh karena itu, kebijakan bahasa yang telah di ambil Indonesia dari perkataan diatas bisa dilihat bahwa kebijaksanaan bahasa merupakan usaha kenegaraan suatu bangsa untuk menentukan dan menetapkan dengan tepat fungsi dan status bahasaatau bahasa-bahasa yang ada di negara tersebut, agar komunukasi kenegaraan dan kebangsaan dapat berlangsung dengan baik. Selain memberi keputusan mengenai status, kedudukan, dan fungsi suatu bahasa, kebijakan bahasa harus pula memberi pengarahan terhadap pengolahan materi bahasa itu yang biasa disebut sebagai korpus bahasa.
Perencanaan bahasa
Melihat urutan dalam penanganan dan pengolahan masalah-masalah kebahasaan dalam negara yang multilingual, multirasial, dan multikultural, maka perencanaan bahasamerupakan kegiatan yang harus dilakukan sesudah melakukan kebijaksanaan bahasa. Tetapi sebelumnya perlu juga diketahui bahwa ada pula pakar yang memasukkan kebijaksanaan bahasa itu sebagai satu tahap dalam perencanaan bahasa (Neustupni 1970, Gorman 1973, dan Garvin 1973).
Istilah perencanaan bahasa (language planning) mula-mula digunakan oleh haugen (1959) pengertian usaha untuk membimbing perkembangan bahasa ke arah yang di inginkan oleh para perencana. Menurut hougen selanjutnya, perencanaan bahasa itu tidak semata-mata meramalkan masa depan berdasarkan dari yang diketahui pada masa lampau, tetapi perencanaan itu merupakan usaha yang terarah.
Di Indonesia kegiatan yang serupa dengan language planning ini sebenarnya sudah berlangsung sebelum nama itu diperkenalkan oleh hougen(moeliono 1983), yakni sejak zaman pendudukan Jepang ketika ada komisi bahasa Indonesia sampai ketika Alisjahbana menerbitkan majalah pembina bahasa Indonesia tahun 1948. Malah kalau mau dilihat lebih jauh, language planning di Indonesia sudah dimulai sejak Van op huijsen menyusun ejaan bahasa Melayu (Indonesia)
Sesudah memahami apa yang dimaksud dengan perencanaan bahasa itu, maka masalah berikut yang timbul adalah siapa yang harus melakukan perencanaan bahasa itu. Siapapun sebenarnya bisa menjadi pelaku perencanaan itu dalam arti perseorangan atau lembaga pemerintah atau lembaga suasta. Dalam sejarahnya, tampaknya, yang menjadi pelaku perencanaan itu adalah lembaga kebahasaan, baik dalam instansi maupun bukan.
Di Indonesia lembaga yang terlibat dalam perencanaan dan pengembangan bahasa dimulai dari berdirinya commisie voor de volkslectuur yang didirikan oleh kolonial pemerintahan belanda pada tahun 1908, yang pada tahun 1917 berubah mmenjadi balai pustaka. Lembaga ini dengan majalahnya sari pustaka, panji pustaka, dan kedjawen dapat dianggap sebagai perencanaan dan pengembangan bahasa. Lalu, pada tahun 1942 pemerintah penduduk Jepang membentuk dua komisi bahasa Indonesia satu di Jakarta dan satu lagi di Medan. Komisi ini diberi tugas untuk mengembangkan bahasa Indonesia lewat pembentukan istilah keilmuan, penyusunan tatabahasa baru, dan penentuan kata pungutan baru(moeliono 1983). Sesudah proklamasi kemerdekaan, pada tahun 1947 pemerintah indonesia membentuk panitia pekerja bahasa Indonesia dengan tugas mengmban peristilahan, menyusun tata bahasa sekolah, dan menyiapkan kamus baru untuk keperluan pengajaran bahasa Indonesia di sekolah.
Suatu perencanaan bahasa tentunya harus diikuti dengan langkah-langkah pelaksanaan apa yang direncanakan. Pelaksanaan yang berkenaan dengan korpus bahasa adalah penyusunan sistim ejaan yang ideal (baku) yang dapat digunakan oleh penutur dengan benar, sebap adanya sistem ejaan yang di sepakati akan memudahkan dan melancarkan jalannya komunikasi.
Pelaksanaan perencanaan bahasa ini kemungkinan besar akan mengalami hambatan yang mungkin akibat dari perencanaannya yang kurang tepat; bisa juga dari para pemegang tampuk kebijakan, dari kelompok sosial tertentu, dari sikap bahasa para penutur, maupun dari dana dan ketenagaan. Perencanaan yang kurang tepat bisa bersumber dari pengambilan kebijaksanaan yang tidak tepat atau keliru, karena salah mengistemasi masalah kebahasaan yang harus diteliti.
Hambatan dari pemegang tampuk kebijakan bisa terjadi karna mereka yang memegang tampuk kebijakan diluar bidang bahasa. Di Indonesia, misalnya tidak jarang, ada orang yang cukup berpengaruh bukannya tidak memberi contoh penggunaan bahasa yang baik, malah juga melakukan tindakan yang tidak menunjang pembinaan bahasa. Antara lain dengan mengatakan “soal bahasa adalah urusan guru bahasa”
Berhasil atau tidaknya usaha perencanaan bahasa ini adalah masalah evaluasi. Dalam hal ini memang dapat dikatakan evaluasi keberhasilan perencanaan bahasa itu memang sukar dilaksanakan. Umpamanya, bagaimana mengevaluasi keberhasilan dalam bidang pembukuan bahasa, sebap pembukuan bahasa itu tidak disertai dengan pemerian terperinci mengenai sasarannya, dan tidak pula diberi kerangka acuan waktu bilamana hasil kira-kira akan tercapai.
KLIK JUGAsigodang.blogspot.com
KLIK jajantambahan.blogspot.com
KLIK mediarayasimalungun.blogspot.com
LIHAT JUGA Karya Ferdinan De J Saragih di Media
Pergunakan blog, friendster, facebook anda untuk menghasilkan uang. klik dibawah ini..???
ATAU
Selengkapnya...





