Cerpen Feri M. Syukur

Perempuan Yang Ku Basuh Dengan Puisi

Pagi lenyap diringkus hujan. Berubah warna menjadi kelambu biru, yang mengalirkan rindu. Randu melepas kapuk, kapuk basah, maka turun sebagai mayat yang lemah dipaksa hujan cepat mendarat. Sedang dari ujung cemara yang tumbuh, kupu-kupu terperangkap jeruji hujan. Brtengger sejenak meleps penat beterbang.

Dalam sadar, aku bergerak merengsek masuk ke dalam selimut. Seorang kekasih menyelimuti dengan pelukan, dan aku membalas pelukannya dengan kecupan di kening.

Pagi ini aku kalah dari langkah jam, memasuki fajar terang, aku dan kekasihku serupa mayat tergolek lemah tak berdaya di atas ranjang pengantin.

Dari mata kekasihku –Puspita, terlihat bunga layu. Padahal pagi ini hujan kecupan telah membasuh tubuhnya, tapi mata itu mengisyaratkan kelemahan untuk melanjutkan nafas. Sekali-kali terdengan lolongan nafas berat menyentuh wajahku.

Perempuan ini telah kubeli dengan jabat tangan. Ku berikan setetes gugup di qobul yang berat, pada tangan bapaknya pagi kemarin. Tepat di hujan ini kemarin, tapi kemarin tidak hujan hanya sedikit merintik basah tenda pengantin.

Dahulu, ketika hujan menghujam tubuhnya di sore hari. Saat manusia rehat dari peluh mereka, kulihat dirinya menepi diri, melindungi diri dari hujaman hujan yang hebat. Sedang aku menutup pintu rumahku dan hendak beranjak keluar.

Dari dalam rumah, kumendengkurkan segelas kopi di atas meja bersama bundel puisiku yang basi ditelan media masa. Perempuan itu menjelma, ketika aroma tubuhnya duduk di sampingku dan melepaskan baju basahnya. Aroma tangan itu membelaiku seirama hujan menetes dari genting yang tak sempat tertampung. Dan puisipun merengsek masuk ke dalam otak dan menghambur dalam coretan kertas yang perawan selama ini.

Esok hari, ketika hujan sama menghambur dari langit, aku bukakan sedikit langkah keret pintu yang lemah, agar aku bisa tahu sejauh mana tubuh itu menggodaku. Jauh jam berdenting saat hujan kemarin, aku telah sediakan sebatang rokok yang akan menemaniku mendekati tubuh basah itu. Aroma yang telah mmberiku puisi. Betapa tidak, ketika hujan berderai dan menutup tirai kembali, perempuan itu tak lagi muncul. Yang ada segepok rindu pada puisi yang telah mnemaninya dalam hujan kemarin.

Maka aku keluar dari rumah dan menantang hujan, mencari perempuan itu jauh pada kegelapan malam. Perempuan itu tetap tak ada. Yang ada adalah kertas yang meringis kesakitan karena telah terjamah oleh bait puisi kemarin.

Hujan ini sepi dari puisi.

Hujan terus saja berganti tutup tirai. Sepanjang hari hujan tak berhenti mengibaskan bendera mazhabnya. Gemuruhnya terus menggangguku dari kesadaran yang jenuh. Dari balik selimut yang tak bernyawa memeluk tubuh.

Seorang teman dari pulau seberang menanyakanku tentang bait puisi yang mengendap lemas. Aku katakan padanya, bahwa puisiku ini kehilangan ruh. Tubuh dalam tirai hujan telah meluluhkan puisiku ini. Merampoknya, dan meningalkan otak kosong yang lemah untuk berkata lagi.

“Kau tahu?”, katanya padaku. “perempuan itu telah menculikmu masuk ke dalam aroma tubuh yang menyesatkan. Bukankah ia adalah perempuan aneh yang telah membawa imajinasimu masuk dan luluh di nisbahnya?”

“Enatahlah. Aku sendiri masih belum sadar dari aroma tubuhnya,” kataku padanya. Lalu menyodorkan segelas kopi pahit di atas meja. “tapi aku sempat menaruhnya dalam beberapa bait puisi yang singkat. Maukah kau menaruhnya kemeja media masa, seolah aku ini menaruh pengumuman pada perempuan itu, bahwa aku mencarinya”.

“Jangan terlalu berharap”

“Tapi aku sudah terlanjur berharap padanya. Biarkan saja puisi ini mencarinya. Hingga akhirnya ia kembali menepi di rumahku karena jeruji hujan atau tidak, aku tidak memaksanya. Biarkan tubuhnya memapa sendiri ke pintu rumahku”.

Sebuah hujan, setelah huran-hujan lalu yang kosong. Perempuan itu menepi lagi di sana, menyodorkan kembali wangi yang dahulu pernah ia kenakan di sini. Wangi tubuh yang telah memaksaku menulis puisi.

Menerobos hujan dari jauh, menepi ke rumah, dan mulai mengibaskan tubuhnya dari basah. Perempuan hujan yang kini telah hadir setelah sekian lama menunggu liqa pertemuan.

Perempuan dengan kibasan rambut yang meruntuhkan keperkasaan hujan. Dari sana terbit aroma sampho yang tak begitu kasar menjamah hidung, tapi masih sempat ku melihat sebuah garis lurus membelah kepalanya, tepat menuju putaran rambut hitam legam. Seolah langit yang kelabu ini merasuk kedalam rambt yang hitam.

Tapi hujan tak begitu lama. Tak merestui pertemuan ini. Hujan menyibak tirai, maka perempuan itu pun pergi menuju alamnya. Sebuah lembah yang tak kuketahui asal muasalnya.

Dari manakah ia datang, yang menyebabkan dirinya ada berteduh di hadap rumahku. Yang telah menaruhkan sebait puisi yang lalu.

Di pertemuan itu, aku tidak begitu bisa membaca tubuh utuhnya. Aku hanya sempat sedikit tadarus dari puisi yang telah lalu, yang telah hilang bersama temanku yang lalu. Menghantarnya pada gerbang pengumuman, tapi hingga hati larut malam, jemu menunggu, pengumuman itu tak kunjung terbit. Seolah lelap di makan ketidak pastian.

Di hujan ritmis yang padat menghantar air ke bumi, menuju sunga bumi, pagi ini seorang pos datang mengetuk pintu. Aku kira ia adalah perempuan yang menitipkan sepucuk salam lewat malaikat penurun hujan, atau mungkin juga dia sendiri yang datang, yang malu-malu akan meminjam toilet.

Ketika ku melihat seringai pos merekah, betapa aku kecewa melihatnya. Aku tidak mengharapkan dia, tapi yang kuharap adalah perempuan yang kubasuh dengan puisi itu yang menghampiri.

Lalu pos melempar sebuah surat kabar padaku. “Kenapa surat kabar ini begitu penting untuk datang lewat tas pos yang pengap?” tanyaku padanya.

Tukang pos hanya tersenyum dan ia menaruh sebatang pena di tanganku. “Saya juga baru tahu, bahwa anda itu begitu penting untuk dikirimi koran lewat pos. Anda tahu harga prangko koran itu? Dia kirim dua kali lipat agar aku bisa mengantarnya sepagi ini.”

“Laki-laki seperti apa?”

“Bertubuh kecil tinggi menjulang. Mungkin teman lama anda!”

Pos itu pergi membawa ketidak mengertianku. Seraut wajah teman lalu, yang kuselipkan sebundel puisi di tangannya. Mungkin dia yang mengirimkannya. Dan benar saja, dalam koran itu terselip beberapa puisi pengumuman pada perempuan yang biasa bertedu di muka rumah.

Sore inu, ketika pos paginya datang, perempuan itu berteduh lagi di wajah rumah yang genengnya tonggos jauh ke depan. Ada selembar harapan yang menyentuh, ketika pengumuman itu telah beredar. Betapa tidak, harapan selalu muncul dari pengorbanan.

Pintu mash sedikit terbuka. Mataku, kusimpan di ujungnya, dan hidung ku biarkan lepas bebas menguntit apa yang dia lakukan. Ketika memasuki lembaran hujan yang semakin deras, angin menampar mukanya keras-keras, beberapa lembar koran pagi tadi berhambur melepaskan diri dari bundelnya. Perempuan itu merapat menuju pintu. Lama terdiam, dia melemparkannya sebuah pandang permintaan maaf pada ahlul bait. Tapi aku tidak begitu paham bahasa syarat. Aku takut terjerumus pada absurnya isyarat.

Ku coba kuatkan dan mulai keluar lalu sedikit basa-basi menacaci hujan, pada sahabat yang telah melabuhkan perempuanitu ke dermaga hati.

“Hujan begitu kencan”. Kataku mlai basa-basi.

Dia memandangku sejenak, sambil merapatkan jaketnya.

Lalu beberapa orang datang juga menepi. Beberapa pengendara motor lebih memilih menepi di pangkalan ojeg jauh dari depan rumah. Ada dua orang di sampingku. Seorang kakek tua dan perempuan itu.

Aku ajak mereka masuk, agar bisa merasakan bgaimana kenyamananku ketika melihat dirinya menunggu hujan, sambil mecaci maki beberapa kali. Teh manis kuhaturkan dan juga sedikit cemilan sisaku mencoba menulis puisi malam tadi. Dan juga koran tadi pagi yang telah berhamburan keuar, masih terselip di perut meja.

Menuju maghrib yang gelap, hujan belum juga reda. aku lemparkan beberapa pertanyaan padanya, ketika selembar-demi selembar persoalan nampak. Dia pun membahasnya dengan sejuta perhatian. Halaman terus berlanjut, hingga akhirnya aku menyodorkan sebuah halaman koran ang berisikan wajah dirinya dalam puisi. Perempuan itu mengangguk setuju kalau aku ini sedikit berwibawa dalm aturan bahasa.

Hingga episode berlanjut menjadi sebuah film baru. Dari jabat tangan perkenalan, hingga akhirnya menjadi jabat ijab qobul melemahkan hujan. Malam ini, puisi meruntut turun, membasahi tubuhnya. Dan aku memungitnya menjadikan sebuah penghargaan yang akan terselip di ujung kakinya yang jenjang.

“Kau tahu Puspita, dari lekuk tubuhmu, aku temukan sejuta hujan kata yang menuntutku untukku tadah, dan akhirnya merubah puisi dari setiap hujamannya di bumi.”

Puspita hanya tersenyum. Memelukku erat masuk kedalam sebuah kosmo dunia yang tak pernah aku jamah. Yang astinya aku selalu mulai basah oleh hujan puisi pada tubuhnya itu.

Pondok A Batatsa, 2009

Feri M. Syukur, lahir di Bandung 25 Februari 1989. kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia UPI. Kumpulan cerpennya tertuang dalam buku antologi bersama Peradaban Cinta, 2006. sekarang sedang merampungkan buku antologi puisi, drama, dan prosa Karnaval Kupu-Kupu. Bekerja sama dengan Rumah Akasia dan FLaSH BDG.




0 Response to "Cerpen Feri M. Syukur"

Post a Comment